Dari al- Hadith

 

الدين النصيحة, قلنا: لمن؟ قال: “لله, ولكتابه, ولرسوله, ولأئمة المسلمين, وعامتهم” (رواه مسلم).

“Agama adalah nasehat”. Kami bertanya:’Bagi siapa?’, Rasul bersabda:”Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan umumnya mereka” (HR. Muslim )

“If Allah wants to favor someone, He grants him comprehension (understanding) of this religion.”
[Sahih Bukhari vol.1 # 71, Tirmidhi and Musnad Ahmad]

Membantu orang lain bertinya(hakikatnya ) membantu diri sendiri juga( Rahmat dari ar Rahman ):
"..If anyone fulfills his brother's needs, Allah will fulfill his needs; if one relieves a Muslim of his troubles, Allah will relieve his troubles on the Day of Resurrection.."
[Al-Bukhari and Muslim].

Nabi saw. bersabda, “Sesiapa yang merasa gembira apabila dia melakukan amal baik dan merasa dukacita dengan perlakuan dosanya, itulah ciri mukmin sejati”. (HR At-Tirmizi)
Nabi S.A.W. bersabda yang maksudnya : "Tiap mata pasti akan menangis pada hari kiamat, kecuali mata yang dipejamkan dari segala yang haram dan mata yang berjaga malam dalam jihad fisabilillah dan mata yang mentitiskan air mata walaupun sebesar kepala lalat kerana takutkan Allah." (Hadis Riwayat Abu Naim)

Nabi S.A.Wasallam bersabda (ertinya ):
“Janganlah ( kamu bersikap ) banyak bercakap tanpa menyertakan sekali (zikir kepada Allah SWT,) sesungguhnya banyak bercakap dengan tidak disertakan zikir kepada Allah itu adalah penyebab hati seseorang menjadi keras. Dan sesungguhnya sejauh-jauh manusia daripada Allah SWT itu ialah mereka yang keras hatinya”. (HR Tirmizi)

sholat sunat rutin :
“Barangsiapa rutin menegakkan sholat sunnah 12 rakaat, maka Allah ta’aala akan membuatkan rumah baginya di surga, yaitu empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Tirmidzi 379)........
besarnya rahmat Allah ;
Baginda s.a.w. mengingatkan umatnya: "Sesungguhnya ALLAH s.w.t. membentangkan tanganNya pada waktu malam menerima taubat daripada hamba-hambaNya yang bersalah di siang hari, dan membentangkan tanganNya pada siang hari menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah di malam hari. sehinggalah matahari terbit daripada barat. (Riwayat Muslim).

Agama dan amanah
Rasulullah saw bersabda :

لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ (رواه أحمد والبيهقي)

“Tidak sempurna IMAN seseorang yang tidak bisa memikul AMANAH, tidak sempurna AGAMA seseorang yang tidak bisa dipegang JANJIinya.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Sikap amanah dan metepati janji, adalah dua sifat yang saling berkaitan, apabila ada amanah pasti ada sikap menepati janji, jika satu sifat hilang maka hilang pula yang lain, seseorang dikatakan amanah apabila ia mampu menepati janji dan ucapannya di hadapan orang lain, sebaliknya seseorang dikatakan menepati janji jika ia memiliki karakter amanah dalam dirinya.

Keduanya adalah sifat utama yang harus terbangun dalam kepribadian setiap muslim. Keduanya adalah sifat wajib yang punya kaitan erat dan langsung dengan keimanan muslim kepada Allah swt.

Agama adalah nasihat

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْناَ لِمَنْ قاَلَ ِللهِ وَلِكِتاَبِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama (Islam) ini adalah nasehat (diulangi tiga kali oleh beliau).” Kami bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Kata beliau: “Untuk Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya. Serta untuk para imam (pemimpin) kaum muslimin dan awam mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)

Daripada Ibnu Mas’ud r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada satupun dan tidak ada satupun amalan yang boleh menghampirkan kepada syurga kecuali aku telah perintahkan kamu supaya melakukannya , tidak ada satup amalanyang menghampirkan kamu kepada neraka kecuali aku telah melarang kamu daripadanya”.

The Prophet (peace be upon him) said: "Do not be people without minds of your own, saying that if others treat you well you will treat them well, and that if they do wrong you will do wrong. Instead, accustom yourselves to do good if people do good and not to do wrong if they do evil." [Tirmidhi, Hadith 1325] Amazing advice!


Rasulullah s.a.w. bersabda :
Siapa yang menjaga solatnya maka ia mendapat nur ( cahaya ) dan bukti dan selamat pada hari qiamat. Dan siapa yang meninggalkan/ mengabaikan solatnya , maka tidak mendapat nur penerangan dan bukti dan tidak selamat bahkan pada hari qiamat ia kan berkumpul dengan Qarun, firaun dan Ubay bin Khalaf. ( H.R. Ahmad, Ibn Hibbban ).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula.
Allah meridhai kalian bila kalian:
(1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah
Dan Allah membenci kalian bila kalian:
(1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta”
(HR. Muslim no. 1715)
-------------------------------------------------------
"Allahumma inni as-aluka fi’lal khairaat, wa tarkal munkaraat " :" Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran." [HR Tirmidzi]
Doa apabila mengalami kesulitan:

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ
سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah.
Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau
menghendakinya.”
----------------------------------------------------------------
Rasulullah s.a.w:
“Bandingan orang-orang mukmin dalam kasih-sayang, kesian dan simpati sama seperti satu jasad. Apabila satu anggota merasa sakit, maka seluruh angota lain turut berjaga malam dan demam” (Riwayat Muslim)
Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

"Sesiapa yang ingin agar Allah memperkenankan doanya di saat-saat sempit dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan berdoa di saat-saat ia senang" [HR Tirmidzi: 3304, dihasankan oleh al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadist As-Sohihah]


“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)
An-Nu'man Bin Basyir berkata: Nabi SAW bersabda di atas minbar: Sesiapa yang tidak mensyukuri hal yang sedikit, dia tidak akan bersyukur untuk yang banyak. Sesiapa yang tidak mensyukuri manusia, dia tidak akan bersyukur kepada Allah. Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah syukur, meninggalkannya adalah kufur. Perpaduan itu rahmat, perpecahan itu azab [Musnad Ahmad: 18921]


من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه وإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان.
Maksudnya: “Sesiapa yang melihat sesuatu kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan (kuasa)nya, jika tidak mampu hendaklah dia mengubahnya dengan lidah (perkataan)nya dan jika tidak mampu hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”[12].
Muslim

Hadis Rasulullah s.a.w. menjelaskan :

: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدرك الموت وأنت على ذلك
ertinya : "... maka jauhilah dirimu drpd semua Firqah-Firqah (puak-puak - hizbiyy ) kesemuanya ,walaupun pada masa itu kamu harus menggigit pohon2 (kerana kelaparan) , sehingga datangnya kepadamu kematian dan kamu tetap dengan hal itu (yakni berpaut pada apa yg menepati al Haq walaupun kamu keseorangan) - (H. Riwayat Bukhari )

Rasulullah saw. Bersabda ertinya :: “Lagi akan datang kepada manusia tahun-tahun yang tandus (kemarau panjang). Dan pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Orang khianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap hanyalah golongan “Ruwaibidhah”. Sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu hai Rasulullah?”. Nabi saw. menjawab, “Orang yang kerdil dan sebenarnya hina dan tidak mengerti urusan orang ramai”. (Riwayat Ibnu Majah)

Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda:
"Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk syurga."
Kami (para shahabat) bertanya, “Golongan manakah yang akan selamat ?”
Rasulullah SAW menjawab," ’Siapa yang berada diatas (ajaran) seperti ajaranku hari ini dan para sahabatku."
(HR At-Tirmidzi & Thabrani )


“Dari Abi Umamah al-Bahili, dari Rasulullah saw baginda bersabda:
Ikatan-ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan akan dikuti oleh ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah hukum dan yang terakhir adalah solat”. (Hadis Riwayat Ahmad. 5/251)
Dalam hadis al-Imam al-Bukhari daripada Anas bin Malik r.a. katanya:
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّابًا وَلاَ فَحَّاشًا وَلاَ لَعَّانًا
"Bukanlah Nabi s.a.w itu seorang pemaki orang, tidak juga seorang pengucap kekejian dan bukan seorang pelaknat orang lain".
“Sesiapa yg akhirat itu tujuan utamanya, maka Allah jadikan kekayaannya dlm jiwanya. Allah mudahkan segala urusannya & dunia akan dtg kpdnya dgn hina (iaitu dlm keadaan dirinya mulia). Sesiapa yg menjadikan dunia itu tujuan utamanya, maka Allah akan letakkan kefakirannya antara kedua matanya. Allah cerai beraikan urusannya, & dunia pula tidak dtg kpdnya melainkan dgn apa yg ditakdirkan untuknya (iaitu dlm keadaan dirinya hina)”. (Riwayat al-Tirmizi, dinilai hasan oleh al-Albani).
‎"Barangsiapa yg mencari Ridha Allah sekalipun manusia BENCI, maka Allah akan Ridha kpd nya dan membuat manusia Ridha kpd nya..dan barangsiapa yg mencari Ridha manusia dgn kemurkaan Allah, maka Allah akan Murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya..."(HR.Ibnu Hibban dlm Shahihnya: 276).


Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain). Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka” (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan selain mereka)


Sesiapa yang membenci sesuatu dari tindakan amirnya (pemerintah), maka hendaklah dia bersabar, kerana seseorang yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin walaupun satu jengkal, sekiranya dia mati, maka matinya adalah seperti matinya kaum jahiliyyah.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 22/51, no. 6610)

Tho`ifah al-Mansurah(Golongan yang Mendapat Pertolongan)


Mereka juga disebut sebagai Tho`ifah al-Mansurah, iaitulah kelompok atau golongan yang diberi pertolongan oleh Allah ta`ala,hal ini berdasarkan hadith Nabi sallallahu`alaihiwasallam:


لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Sentiasa akan ada segolongan dari ummatku mereka diberikan pertolongan dan tidak dapat mencelakai mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sehingga datangnya hari kiamat.

[ HR Ibn Majah no:6,Shahih Sunan Ibn Majah , 1/78 ]


“Jiwa seorang mukmin tergantung kerana hutangnya, sampai hutang itu dilunaskannya.” (HR. At Tirmidzi)

Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah SAW melaknat orang yang makan riba, yang memberi makannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau bersabda: "Mereka itu sama." (H.R. Muslim juz 3, hal. 1219


Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

”Barangsiapa yang mengadakan perkara-perkara yang baru dalam urusanku ini (Islam) yang tidak bersumber darinya, maka amalan tersebut akan tertolak”.

Dalam riwayat lain berbunyi:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusanku (Islam), maka amalan tersebut tertolak”.

Kita (umat Islam ) boleh berbeza dalam perkara-perkara Ijtihadiah dan Khilafiah , tetapai dalam perkara yang sudah ada ketetapan dari Allah dan RasulNya , maka tidak boleh berbeza (tiada pilian lagi melainkan mengikut ketetapan Allah dan RasulNya ). Jika berbeza juga bermakna kita telah menyimpang dari Jalan yang Lurus .
Firman Allah (ertinya) : "Dan TIDAK seharusnya bagi orang-orang beriman, lelaki dan perempuan - apabila Allah dan RasulNya telah MENETAPKANkan KEPUTUSAN mengenai sesuatu perkara - bahawa ia mempunyai hak (boleh )memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka ( tiada pilihan lagi sesudah penetapan dari sisi Allah dan rasul). Dan sesiapa yang mengingkari (tidak taat ) Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata." (Al-Ahzaab 33:36)

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat.HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
Bersyukur :

"Sedikit sekali di kalangan hamba-hambaKu yang bersyukur."(Saba' 34:13)


Keutamaan Zikir Dengan Memuji, Mengagungkan dan Mensucikan Nama Allah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ »
“Ada dua kalimat (zikir) yang ringan diucapkan di lidah, (tapi) berat (besar pahalanya) pada timbangan amal (kebaikan) dan sangat dicintai oleh ar-Rahman (Allah Ta’ala Yang Maha Luas Rahmat-Nya), (yaitu): Subhaanallahi wabihamdihi, subhaanallahil ‘azhiim (maha suci Allah dengan memuji-Nya, dan maha suci Allah yang maha agung)”[1].
Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan mengucapkan dua kalimat zikir ini dan menghayati kandungan maknanya, karena amal shaleh ini dicintai oleh Allah Ta’ala dan menjadikan berat timbangan amal kebaikan seorang hamba pada hari kiamat[2].
Oleh karena itu, makna dua kalimat zikir ini disebutkan dalam al-Qur’an sebagai doa dan zikir penghuni surga, yaitu dalam firman Allah Ta’ala,
{دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
“Doa mereka (penghuni surga) di dalam surga adalah: “Subhanakallahumma” (maha suci Engkau ya Allah), dan salam penghormatan mereka ialah: “Salaam” (kesejahteraan bagimu), serta penutup doa mereka ialah: “Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamin” (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)” (QS Yunus: 10)[3].
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Arti “maha suci Allah” adalah mensucikan Allah Ta’ala dari segala sifat yang menunjukkan kekurangan, celaan dan tidak pantas bagi-Nya, serta menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya[4].
- Arti memuji Allah Ta’ala adalah menyanjungnya dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang berkisar di antara keutamaan dan keadilan, maka bagi-Nyalah segala pujian yang sempurna dari semua sisi[5].
- Dikhususkannya penyebutan nama “ar-Rahman” dalam hadits ini untuk mengingatkan manusia akan maha luasnya rahmat Allah Ta’ala, di mana Dia memberi balasan bagi amal yang ringan dengan pahala yang sangat besar[6].
- Keutamaan yang dijanjikan dalam hadits ini berlaku bagi orang yang berzikir dengan mengucapkan dua kalimat zikir dia atas secara bergandengan[7].
- Zikir ini lebih utama jika diucapkan dengan lisan disertai dengan penghayatan akan kandungan maknanya dalam hati, karena zikir yang dilakukan dengan lisan dan hati adalah lebih sempurna dan utama[8].
- Perlu diingatkan di sini bahwa semua bentuk zikir, doa dan bacaan al-Qur’an yang disyariatkan dalam Islam adalah bacaan yang diucapkan dengan lidah dan tidak cukup dengan hanya terucap dalam hati tanpa menggerakkan lidah, sebagaimana pendapat mayoritas ulama Islam[9].
- Dalam hadits ini juga terdapat anjuran untuk menetapi dan banyak mengucapkan dua kalimat zikir di atas[10].
- Hadits ini juga menunjukkan adanya timbangan amal kebaikan yang hakiki pada hari kiamat dan bahwa amal perbuatan manusia akan ditimbangan dengan timbangan tersebut, ini termasuk bagian dari iman terhadap hari akhir/kiamat[11].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 15 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id
------------------------------------------
Ujian iman di akhir zaman(fitnah akhir zaman ) :
Daripada Abu Hurairah ra bahawasanya Rasulullah SAW bersabda :"Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat terhadap iman) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman di waktu pagi, kemudian di waktu petang dia sudah menjadi kafir, atau seseorang yang masih beriman di watu petang, kemudian pada esok harinya ia sudah menjadi kafir. Ia telah menjual agamanya dengan sedikit dari mata benda dunia".(Hadis Riwayat Muslim)
Huraiannya : Hadis ini menerangkan kepada kita betapa dashyatnya dan hebatnya ujian terhadap iman seseorang di akhir zaman. Seseorang yang beriman di waktu pagi, tiba-tiba dia menjadi kafir di waktu petang. Begitu pula dengan seseorang yang masih beriman di waktu petang, tiba-tiba pada esok harinya telah menjadi kafir. Begitu pantas dan cepat perubahan yang berlaku.

Iman yang begitu mahal boleh gugur di dalam godaan satu malam atau satu hari sahaja, sehingga ramai orang yang menggadaikan imannya kerana hanya hendak mendapatkan sedikit dari harta benda dunia. Dunia lebih dicintai di sisi mereka daripada iman. Dan menurut Ibnu Majah, beliau menambahkan, "kecuali orang yang hatinya dihidupkan Allah SWT dengan ilmu".

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita di antara orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, sehingga dengan itu Allah SWT akan menyelamatkan iman kita dari ujian yang dashyat ini.
(Abu Basyer)
--------------------------------------
Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda:
"Barang siapa yg mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapat pahala org yg mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya. Dan siapa yg mengajak kepada kesesatan, dia menanggung dosa seperti orang2 yg mengikutinya tanpa dikurangi dosanya sedikitpun." (HRMuslim)


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمانا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Sesiapa yang mengerjakan puasa bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan rahmat Allah Taala, nescaya diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu."
------------------------------------------------
"Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka."
(Imam Abu Hanifah)
Ibnul Mubarok pernah berkata:

رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ

"Betapa banyak amal yang kecil menjadi bernilai besar karena niat, dan betapa banyak amalan besar yang menjadi bernilai kecil karena niat" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam hal 13)
"Abu Bakar dan Umar memerintah orang seperti aku, manakala aku memimpin orang seperti kamu", jelas khalifah Ali bin Abi Talib kepada seorang lelaki khawarij yang mempertikaikan pemerintahannya.

لَنْ يُصْلِحَ أَمْرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ بِهَا أَوَّلَهَا
"‘Tidak akan baik akhir umat ini, kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya."-Imam Malik Rahimahullah-

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Renungkanlah : Betapa Bodohnya Kita Jalani Hidup Ini, Jika SMS Masuk Kita Cepat baca Dan Balas, Kenapa Pada Waktu Masuk Sholat Kita Tidak Cepat Laksanakan, Isi Ulang Pulsa Rp.5000-100.000 Kita Sanggup, Tapi Kenapa Sedekah Rp.100-10.000 Terasa Berat, Waktu Mandi Macam2 Lagu Dinyanyikan, Tapi Kenapa Waktu Makan Bismilahpun Kita Lupa, Bila Pulsa Habis Susah Payah Kita Tebus, Kenapa Kita Tidak Tebus Dosa-Dosa Yg Telah Kita Lakukan ?

Gabung yuk di Facebook

Template by:
Free Blog Templates